Hidupterus berputar dari tahun ke tahun. Usia bertambah, senyatanya berkurang satu tahun dari jatah hidup yang dianugerahkan Tuhan. Siapapun dengan kedudukan apapun layak berinstrospeksi diri. Apa yang kurang dan tercecer dari perjalanan hidup selama ini. Lalu, bagaimana memasuki tahun baru dengan semangat dan visi baru agar hidup ke depan
Hariini usiaku bertambah, jatah hidupku di dunia berkurang, tapi aku tak putus berdoa agar semakin dekat pada YG MAHA KUASA , di beri kesehatan, panjang usia, penuh cinta dan hidup berguna bagi keluarga dan orang lain. Aku percaya kadang doa merubah takdir.
ingatlah jatah mu hidup di dunia sudah berkurang satu tahun. coba flash back berapa banyak dosa yang kamu udah perbuat? Semoga dgn bertambahnya umur ayah,bertambah pula kasih sayang kepada kami,SELAMAT ULANG TAHUN AYAH, Kami menyayangimu. Suami Tersayangku, engkau telah menjadi bagian dari hidupku, bagian terindah, dan akan ku
UmurBertambah, Usia Berkurang 13 March 2013. Posted by TanpaKataNama313 at Wednesday, March 13, 2013 "Bila umur itu bertambah.. usia itu akan tetap berkurang" jalan untuk hidup baik2 live well @ live hell.. kita punya pilihan out. :-) 2348 pm 13/03/13. Email This BlogThis!
Disamping itu juga usia 40 tahun berarti jatah usia kita sudah berkurang. Meskipun secara kuantitatif usia kita bertambah. Artinya seandainya jatah usia kita 50 tahun maka, hidup kita tinggal 10 tahun, atau jika jatah usia kita 60 tahun maka, kita tinggal menghitung sendiri, berapa lama kita hidup lagi. Dan seterusnya.
Yangpasti umur bertambah satu tahun bro, jatah hidup berkurang satu tahun. Moga aja rezeki makin bertambah baik, amal makin bertambah, kesehatan bertambah baikteman makin bertambah, AminTapi ingat istri jangan ditambah Tahun baru, semangat baru bro
. H-297 365 Gurusiana Bertambah dan Berkurang Sudah menjadi sunnatullah jika ada yang bertambah pasti ada yang berkurang. Bukan hanya soal materi melainkan segala yang telah Allah tetapkan untuk manusia. Seperti hari ini, ketika hitungan usiaku bertambah, maka hakekatnya jatah hidup berkurang. Sangat dipahami jika pada saat bertambah hitungan usia atau berkurang jatah hidup banyak yang mengiringi dengan do'a. Semoga dipanjangkan usia, maksudnya usia kebaikan dalam sisa hidup yang ada. Semoga sehat maksudnya supaya tetap optimis menghadapi hidup yang makin menua. Dan semoga barokah, maksudnya segala yang dilakukan tak mengurangi nilai ketuaan, pikun, atau sakit -sakitan. Tapi setiap nafas hidup dijalani dengan tenang tanpa gentar menghadapi masa di usia yang tak lagi muda. Terima kasih kawan-kawan sejati yang telah mengiringiku dengan do'a-do'a terbaik, terindah. InsyaAllah do'a-do'a terbaik itu akan kembali kepada kawan-kawan karena keikhlasan. Terima kasih Ibing Family untuk do'a dan hadiah terbaiknya. Terima untuk sahabat dan handai taulan dan semua yang kusayangi. Wish you all the best Cilegon, 14 Mei 2023. DISCLAIMER Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini. Laporkan Penyalahgunaan
Oleh Pdt. Bigman Sirait LAZIMNYA, acara pergantian tahun dirayakan dengan sukacita. Acara kebaktian diselenggarakan di gereja maupun di rumah-rumah tangga. Semua merasa bersyukur karena Tuhan masih mengijinkan kita memasuki kehidupan di tahun berikutnya. Masalahnya, bukan seberapa lama kita hidup di dunia, tetapi bagaimana nilai kehidupan kita di dunia. Waktu, punya dua sisi yang perlu kita pahami, yakni bertambah dan berkurang, dan itu terjadi seka-ligus. Seperti mata uang, ada sisi kiri dan sisi kanan. Ada angka dan lambang. Uang dinyatakan sah dan punya nilai kalau ada lambang dan angka itu. Pada waktu kita ber-kata, selamat panjang umur , kepada orang yang sedang mera-yakan hari ulang tahun, pada saat yang bersamaan, umurnya juga makin pendek. Mengapa? Misalkan Tuhan sudah memberi jatah baginya 60 tahun, maka pada saat memasuki usia 20, jatahnya semakin berkurang. Dalam hal ini, bertambah panjang dan bertam-bah pendek terjadi sekaligus. Ini disebut paradoks dua hal yang berbeda atau bertolak belakang, tetapi dua-duanya benar. Saat pergantian tahun, masa hidup kita di dunia makin bertam-bah, tetapi jatah juga berkurang. Namun janganlah kita hanya melihat sisi tambahnya, lihat juga sisi kurangnya, sebab itu akan membuat kita bijaksana. Dengan menghitung hari-hari, kita introspeksi dan bertanya tentang apa yang telah kita lakukan sepan-jang usia itu. Dengan menyadari bahwa waktu kita makin sedikit, berusahalah mengisinya dengan hal yang baik-baik. Dalam mengisi hari-hari, kita sering terjebak dalam rutinitas. Kita terjebak dalam perjalanan waktu. Kita terjebak dalam kesibukan, tuntutan waktu, sampai-sampai kita tidak lagi mempunyai momentum penting dalam waktu itu sendiri untuk menjadi bijaksana memahami apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita. Jika kita tidak pernah menghitung hari-hari kita, bagaimana mungkin kita bisa menjadi bijaksana menjalani sisa-sisa hidup? Jika tidak belajar dari sana, kita tidak mendapatkan hati yang bi-jaksana, karena kita hanya meng-hitung nilai tambahnya. Nilai kurangnya tidak pernah kita hitung. Kita hanya berani bersyukur jika memperoleh sesu-atu kemajuan materi atau posisi. Maka, ucapan-ucapan yang kita dengar hanya Wah, puji Tuhan, uangku bertambah banyak. Puji Tuhan, saya sembuh dari penya-kit , dan sebagainya. Kalau wujud keberimanan kita seperti ini, alangkah sedihnya. Sebelum kerusuhan Mei 1998, banyak orang merasa bangga dan berkata, Puji Tuhan , karena memiliki harta kekayaan yang melimpah, atau meraup sukses di sana-sini. Tetapi, apa yang mereka katakan ketika usaha mereka runtuh? Ketika mereka mendadak jatuh pailit karena perubahan nilai rupiah terhadap dollar AS yang begitu drastis, bagaimana sikap mereka? Hutang berlipat ganda, usaha menjadi hancur. Apa karena Tuhan tidak ada? Apa karena Tuhan tidak mengasihi? Kita sering salah mengerti tentang cinta-kasih Tuhan. Kita sering salah memahami kehendak Tuhan. Jika kita mengalami keku-rangan, kehancuran, kehilangan, maka kita menganggap Tuhan tidak adil, atau Tuhan tidak bersama dengan kita. Lalu kita menjadi kecewa. Inilah kegagalan dan kehancuran yang melanda banyak orang Kristen, karena menganut faham teologi yang selalu sukses, selalu sehat. Sebagai pengikut Kristus, kita harus memahami bahwa bertam-bah dan berkurang dalam kepemi-likan, atau status, keduanya sama-sama memiliki nilai plus dalam hidup kita. Ketika seseorang menjadi miskin, mungkin saja kondisi itu membuatnya menjadi bijak. Seperti Nabi Musa. Sewaktu di istana, dia hanya tahu membereskan segala sesuatu dengan kekuatannya. Dia mencoba menyelesaikan persoalan bangsa Israel dengan statusnya sebagai bangsawan, tetapi dia tidak dianggap. Sampai akhirnya dia terlempar dari istana, menjadi gembala. Tetapi, justru di sinilah dia belajar, dan makin memahami kehendak Allah, dia makin mengerti cinta-kasih Allah. Hidupnya pun menjadi indah. Tuhan tidak pernah membuat sesuatu itu tanpa meaning mak-sud. Rencana Tuhan selalu indah, tetapi bagaimana perspektif kita sebagai manusia? Jangan karena sudah merasa percaya dan kenal pada Tuhan, maka semuanya akan menjadi baik dan mulus. Baca kisah Alkitab tentang Ayub yang saleh, cinta pada Tuhan, namun meng-alami pencobaan yang sangat hebat. Hartanya yang melimpah habis. Bukan cuma itu, dia juga kehilangan anak-anaknya, bahkan dia menderita penyakit berat pula. Namun kecintaan dan ketaatannya pada Tuhan tiada berkurang. Zakaria dan Elisabet, pasangan yang cinta Tuhan, namun baru memiliki anak pada usia tua. Hanna adalah seorang perempuan yang selalu memuji dan memuliakan Tuhan, tetapi kerap disakiti menan-tunya. Banyak kisah dalam Alkitab tentang orang-orang saleh namun mengalami berbagai kesulitan, sesaat, bahkan sampai mati. Namun mereka bertumbuh hebat dalam kerohaniannya. Sekali lagi, sisi tambah dan kurang dalam dimensi waktu sangat penting dalam hidup kita. Waktu merayakan hari ulang tahun, rasanya tidak cukup hanya mengucapkan selamat panjang umur , tapi juga selamat pendek umur . Jangan hanya ucapkan selamat berbahagia , namun juga hati-hati, berbahaya. Mengapa? Karena dalam menapaki sisa-sisa usianya, mungkin saja dia tidak berbuat apa-apa, malah hanya terlena dalam pesta yang memabukkan. Atau bisa saja dia hanya terlena dalam pujian-pujian syukurnya. Dalam keterlenaannya dia hanya sekadar mengatakan, Terimakasih Tuhan , tetapi pelayanannya, kepasrahannya pada Tuhan tidak bertambah. Ketika harta benda atau jaminan hidup seseorang bertambah, rasa kebergantungannya pada Tuhan seringkali justru berkurang. Atau sebaliknya, ketika jaminan hidup atau kepemilikan atas harta benda semakin berkurang, ketergan-tungan kita pada Tuhan semakin bertambah. Tetapi, tidak perlulah kebergantungan pada Tuhan men-jadi kuat karena harta semakin berkurang. Yang paling bagus adalah bagaimana supaya keter-gantungan pada Tuhan terus-menerus menguat baik di saat harta semakin berlimpah maupun berkurang. Jika ini bisa kita lakukan, bukankah sangat indah hidup ini? Mazmur 9012 berkata Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Semoga, di tahun yang baru ini kita mengerti dan menyadari bahwa segala apa yang kita miliki dalam hidup ini, pada dasarnya bukanlah milik kita, tetapi milik Tuhan. Kesadaran seperti inilah yang membawa kita ke dalam pertumbuhan yang sehat. Selamat tahun baru Januari 2005.* Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P. Tan
Setiap hari umur akan semakin bertambah, Membuka lembaran baru di kertas putih, Di mulai ketika terbangun dari tidur Tapi apakah kita sadar bahwa sebenarnya jatah hidup kita di dunia berarti berkurang dan lembaran-lembaran kertas putih itu lama kelamaan akan habis hingga menemukan jilid terakhirnya. Tanda bahwa kita sudah saat nya menutup buku catatan kita selama hidup di dunia dan buku catatan itu lah yang akan jadi saksi perjalanan hidup kita untuk di pertanggung jawabkan di akhirat Jika kita ingat kebelakang apakah kita banyak melakukan yang Allah SWT perintahkan? Atau bahkan kita justru melupakan tanggung jawab kita di dunia? Kamu lupa? Komitmen bersama Allah SWT sebelum Ia mengijinkan kamu untuk hidup di dunia? Dia menghadirkan kamu ke dunia bukan tanpa alasan dan perjanjian mu bersama-Nya adalah untuk menyembah-Nya, untuk mencari bekal di dunia agar kelak bisa hidup di syurga nya ALLAH mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang ingat akan dosa-dosanya atau bahkan mereka ingat akan dosa nya tapi tidak mau menebusnya dengan alasan nanti, nanti dan malaikat tidak kenal kata nanti bukan untuk mencabut nyawamu, apakah kamu sadar bahwa umurmu akan terus bertambah, tapi jatah hidup mu akan terus berkurang jadi kamu masih mau mengulur waktu untuk menebus dosamu?Kamu tidak pernah tahu kapan waktu mu itu akan berakhir, bisa saja 1 tahun lagi, 1 bulan lagi, 1 minggu lagi, 1 hari lagi, atau bahkan 1 jam lagi. Kamu tidak pernah tau itu bukan? Jadi mengapa masih menunggu nanti, jika sekarang mampu menyicil untuk menghapus dosa dosa mu yang telah lalu, setidaknya tebuslah dosamu dari yang paling tau tidak bahwa apa yang kita kerjakan itu ada sangsinya, ada balasannya, atau sering disebut juga ada dengar sebuah pepatah? "Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai" Yah, itu memang pepatah lama tapi pepatah itu seakan melekat di hidup kita, jika kita tanam kebaikan maka Allah swt berjanji akan membalas pula dengan kebaikan, begitupun sebaliknya, jika kita berbuat jahat kepada orang lain maka ALLAH SWT lah yang akan membalasnya firman Allah swt di bawah ini“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” QS. Az Zalzalah 7-8.Jadi seberapa banyak bekalmu untuk di akhirat kelak kawan? “Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”
Tidak terasa kita sudah berada di tahun 2022. Sebagian orang mungkin menyangka bahwa kehidupannya hari ini adalah bertambahnya usia. Padahal jika kita amati dengan seksama justru usia kita sebenarnya makin yang telah kita ketahui bahwa Kelahiran, jodoh, kematian manusia adalah sudah ditakdirkan atau digariskan oleh Allah Ta’ala. Misalnya seseorang ditakdirkan hanya berusia 75 tahun, sekarang dia berusia 50 tahun makan umurnya di dunia fana ini hanya tinggal 25 sebenarnya jika seseorang bisa menikmati hidupnya hari ini, artinya seseorang itu berkurang usianya. Jadi moment ulang tahun bukanlah hal yang perlu dirayakan dengan suka cita, hura-hura, bermewah-mewah apalagi hingga melanggar syariat Allah. Memang ulang tahun perlu disyukuri bahwa kita masih diberi “waktu” untuk Tuhan menikmati / menjalani kehidupan Moment mengingati hari kelahiran kita seharusnya dijadikan moment instrospeksi diri apakah diri kita makin tahun makin bertambah baik perilaku dan kehidupan kita. Apakah hari-hari yang kita jalani lebih mendekatkan diri kepada Allah atau justru sebaliknya?Katakan pada dirimu, Setiap bertambahnya umur saya, selalulah bertanya kepada diri sendiri apakah saya sudah bertambah baik, bijaksana, lebih dekat kepada Allah? Jika masih belum saya berjanji kepada diri saya sendiri ditahun yang akan saya jalani, saya akan bertambah bijaksana dan bertambah baik, bertambah sholeh dalam perilaku dan kehidupan saya. Karena waktu tidak bisa menunggu kita, waktu akan selalu mengejar kita, menggerogoti/mengurangi usia kita. Waktu tak pernah kembali, maka tak salah adalah sebuah istilah waktu adalah harta yang berharga, waktu adalah uang, waktu tidak bisa dibeli dengan harta apapun. Setiap hari menjalani hidup ini sebenarnya berarti kita makin menyusut, masa manfaat kita makin berkurang. Makin tua kita semakin banyak keluhan ditubuh kita, dimana sewaktu muda tidak kita rasakan. Berbagai penyakit kadang menjangkiti diri kita. Usia tidak bisa ditipu. Maka isilah waktu dengan sebaik-baiknya, yang bermanfaat dan yang dapat membuat diri kita bertambah baik. Hargai waktu seperti kita menghargai diri kita panjang umur merupakan modal untuk meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Namun jika umur yang panjang dipenuhi dengan keburukan, maka pemiliknya menjadi orang yang paling buruk. عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasûlullâh, siapakah manusia yang terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang terburuk?” Beliau menjawab, “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya”. HR. Ahmad; Tirmidzi; dan al-HâkimKenapa orang yang panjang umurnya dan baik amalnya merupakan orang terbaik ? Karena orang yang banyak kebaikannya, setiap kali umurnya bertambah maka pahalanya juga bertambah dan derajatnya semakin tinggi. Kesempatan hidupnya merupakan tambahan pahala dengan sebab nilai amalannya yang terus tambah, walaupun hanya sekedar istiqâmah di atas iman. Karena apakah yang lebih besar dari iman di dalam kehidupan ini?Sebaliknya, seburuk-buruk orang adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya, karena waktu dan jam seperti modal bagi pedagang. Seyogyanya, dia menggunakan modalnya dalam perdagangan yang menjanjikan keuntungan. Semakin banyak modal yang diinvestasikan, maka keuntungan yang akan diraihnya juga semakin banyak. Barangsiapa melewatkan hidup untuk kebaikannya maka dia telah beruntung dan sukses. Namun barangsiapa menyia-nyiakan modalnya, dia tidak akan beruntung dan bahkan merugi dengan kerugian yang nyata”.Di dalam hadits yang lain disebutkan وعَنِ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِكُمْ ». قَالُوا نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ خِيَارُكُمْ أَطْوَلُكُمْ أَعْمَاراً وَأَحْسَنُكُمْ أَعْمَالاً Dari Abu Hurairah, dia berkata Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah aku beritahukan kepada kamu tentang orang yang paling baik di antara kamu?” Mereka para sahabat menjawab, “Ya wahai Rasûlullâh”. Beliau bersabda, “Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang paling panjang umurnya di antara kamu dan paling baik amalnya”. HR. Ahmad; Ibnu Hibbân; dan al-Baihaqi.Hadits-hadits ini menjelaskan keutamaan panjang umur yang disertai dengan amal yang baik. Syaikh al-Munâwi rahimahullah menjelaskan perkara tersebut dengan berkata, “Karena termasuk keadaan seseorang adalah bertambah dan meningkat dari satu kedudukan menuju kedudukan di atasnya sehingga mencapai kedudukan kedekatan kepada Allâh, maka seorang Mukmin yang berusaha mencari bekal untuk akhirat dan berusaha menambah amal shalih tidak layak menginginkan berhentinya dari apa yang dia inginkan itu dengan mengharapkan kematian.”Oleh karena itu seorang Mukmin jangan sampai menyia-nyiakan umur dan waktunya. Hendaklah dia selalu waspada terhadap kehidupannya, umur yang masih ada hendaklah diisi dengan amal sholih. Jika tidak, maka kerugian yang akan Allah membimbing kita dan menjadikan umur kita lebih berkah.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. [caption id="attachment_267692" align="aligncenter" width="300" caption="dari DP BBm seorang teman"][/caption] 28 tahun silam, 14 Juni 1985 melalui proses persalinan yang melelahkan selama beberapa hari, akhirnya Mamah melahirkanku di bantu dukun beranak kampung di Hajaban Huta Manik, Sumatra utara, tepat di hari Jumat. Aku lalu diberi nama Sutri Yaningsih Manik. Nama yang sangat Jawa sekali padahal katanya orang Batak. Wkwkwk geje! Kata Mamah Yaningsih itu sama seperti nama pariban Papah yang tinggal di Simomagersari, Jl. Indrapura Surabaya, peranakan batak jawa. Lalu ditambahkan lah nama SUTRI sebagai nama depan untuk semakin menambah kental nama jawaku. Hemmm ini jadi semacam cinta terpendam Papah dan aku menjadi tumbal, wkwkwk. Setiap kali aku menyebut namaku SUTRI saat berkenalan, orang akan mengulang dan kembali menanyakan namaku “Siapa tadi? Surti?” “SUTRI” jawabku “Oh Putri.” Ucapnya lagi “Bukan bukan SUTRI.” timpalku “Oh Sureti!” “Bukan Sureti tapi SUTRI, S-U-T-R-I jadi SUTRI! Kayak bilang Putri tapi huruf P diganti pakai huruf S” ucapku terus berusaha menerangkan. “Sutri?” “Ya bener!”jawabku girang “Ya sutra lah bo, ga penting juga.” Ucapnya santai tapi bikin aku gak santai pengen nimpuk pake balok kayu anarkis! Kejadian semacam itu selalu berulang saat perkenalan di awal tahun ajaran baru bersama guru baru, kelas baru, saat berkenalan dengan orang baru atau saat aku ikut kuis di radio. Penyiar-penyiar semprul akan selalu salah saat menyebut namaku dan aku harus mulai menerangkan. Itu orang baru lho, lha wong yang sudah kenal lama saja masih sering salah sebut atau salah tulis namaku kok. Kadang jadi Sutrianingsih atau Surti mereka menulisnya, ini jadi kebiasaan pihak administrasi sekolah dan kelurahan nih sampai-sampai aku jadi rajin untuk mengoreksi dan menambah urusan administrasi. Penyebutan atau penulisan nama jadi terasa sensitif dari zaman dulu dan bikin aku sejak kecil sampai lulus SMA menjadi tidak suka dengan nama SUTRI. Karena terdenar tidak cantik seperti Dina, Dewi, Anisa, Gita, Intan dll. Sutri selalu disebut dengan nada seolah itu adalah nama yang aneh, tidak di ucapkan dengan gagah dan mantap seperti saat menyebut nama Bapak presiden RI pertama “SUTRISNO” yang punya 5 huruf yang sama denganku. Kadang malah aku benar-benar dipangil Sutrisno dengan nada mengejek. *Arghhhhhh Apa lagi era Jamrud melejit dengan lagu Surti Tedjo, pasangan remaja yang mau ber esek-esek di sawah pake kondom korban salah gaul. WTF, itu masa ter-arghhhhhh banget deh pokoknya. Karena beberapa orang rajin banget manggil aku Surti dengan bernyanyi ala Krisyanto lalu tertawa sambil menunjukkan jari tengah *capeDeh, beberapa orang lainnya malah memanggilku Tedjo dan ah macem-macem deh pokoknya. Di SMA, satu sekolah dulu memanggilku SAMSON bahkan sebagian hampir lupa nama asliku adalah SUTRI, sampai-sampai kalau dulu mereka menelpon kerumahku, mereka akan berkata “Samson nya ada Om?” “SAMSON?” Tanya ayahku heran lalu bertanya ke seisi rumah “Siapa yang pake nama Samson di rumah ini?” Lalu aku akan cepat berlari dengan ekspresi wajah malu dan dengan sigap mengambil alih telpon. Setelah itu, orang-orang rumah jadi ikut menyebutku SAMSON dengan nada mengejek. Para kakak, adik dan orang tua teman-temanku juga jadi ikut-ikutan memanggilku SAMSON saat aku bermain kerumah mereka sepulang sekolah dan itu terjadi sampai saat ini. Mereka selalu bilang “Eh, Samson yang suka pisang dan gedang!” sambil menyodorkan piring berisi pisang, aku akan merespon cukup dengan nyengir sambil melahap pisang yang kupas nya harus dibuka menjadi 4 bagian tidak boleh 3 karena mengupas kulit pisang menjadi 3 itu adalah kebiasaan monyet. Aku dipanggil SAMSON karena sewaktu kelas satu SMA dulu, aku selalu diganggu oleh gerombolan anak laki-laki kelas 1-5 yang bersebelahan dengan ruang kelasku 1-4. Satu hari mereka iseng menggangguku dan spontan aku mengangkat balok kayu yang besar dan menyerang mereka secara brutal mirip Xena the warior princess. Saat aku menyerang mereka, Gilang Hata salah satu anak kelas 1-5 berteriak memanggilku Samson diikuti gelak tawa anak-anak lain yang melihat. Lalu karena penampilanku yang lebih mirip anak laki-laki dari pada anak perempuan, temanku juga kebanyakan adalah anak laki-laki dan juga karena perilaku yang lebih mirip anak laki-laki doyan ikut balapan motor, breakdance dan bermain sepak bola maka akhirnya kebanyakan dari teman-temanku justru malah jadi ikut memanggilku SAMSON sejak saat itu, itu bukan masalah karena SAMSON terdengar gagah. Saat aku mulai menjadi penyiar tahun 2005, nama SUTRI bukanlah nama yang menjual dan nggak enak di dengar. Bosku bilang, nama itu ribet. Para pendengar juga selalu salah menyebut namaku. Walhasil nama on air-ku jadi Sonic Manik di radio pertama dan jadi Manik di radio ke dua. MANIK, yah sebuah marga yang kebetulan cantik dan terdengar asyik saat di ucapkan. Tapi semua adikku juga di panggil Manik oleh teman-temannya *nahLho* Setelah lulus SMA baru deh aku mulai agak sedikit suka dengan nama SUTRI dan semakin suka sejak setahun lalu ketika kantor mengadakan pelatihan dan ada materi mengenai penerimaan diri. Sejak saat itu aku jadi memiliki makna tersendiri tentang nama dan diriku sendiri. Sekarang aku sering di panggil SAMSON oleh kawan saat SMA, dipanggil SUTRI atau MANIK oleh rekan dan kawan lainnya asal bukan Surti apa lagi Tedjo. Seseorang berkata Apalah arti sebuah nama? Oh bagiku itu penting sekali tuan nyonya, itu identitas diri, sebuah makna yang melekat bersama bayangan saat kau mengingat seseorang, Mamah awak bilang “Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan budi dan nama baik.” Jadi sory kalau awak agak-agak sensi. Hari ini tepat di hari Jumat sama seperti 28 tahun silam, aku merayakan ultah atau milad. Milad kali ini terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Ada sesuatu yang kumaknai begitu dalam. Sesuatu yang sulit ku ceritakan tapi aku tahu Allah tercinta yang berdiam di Arasy selalu tahu apa yang aku maksud. Millad kali ini indah tapi bukan karena kejutan, kado special ataupun kue tart seperti dulu. Milad kali ini aku tanpa pekerjaan, dengan kondisi fisik yang sudah tidak lagi sama, tanpa teman dan sahabat seperti dulu juga tanpa Ononk tercinta karena dia sedang sibuk dan lelah bekerja Kebiasaan ultah di tahun ganjil yang tidak di sengaja!. Hanya ada Mamah, Papah, adik-adik dan ditambah untaian doa dari beberapa sahabat. Indah, ya ini tetaplah indah dan bermakna indah tapi ada yang lebih indah di hati ini dan ada sebuah rasa syukur karena kembali bertemu 14 Juni. Sebagian doaku kini sadalah memiliki umur yang bermanfaat, bekal yang cukup menuju akhirat karena bertambah umur artinya jatah hidup semakin berkurang dan aku berharap semoga sempat bertemu Ramadhan nanti, aamiin. Teringat saat ikut pelatihan kantor yang membuatku belajar tentang makna diri, ada juga tentang Ho’op tahu bener tahu kaga nulisnya yang di ajarkan dalam pelatihan. Ho’op dilakukan dengan cara diam, menutup mata, menarik napas tenang dan teratur lalu berbicara mengucap kata maaf, cinta, sayang dan terima kasih pada diri sendiri. Milad kali ini pun aku sedang berhalangan shalat jadi cukup merapal doa di dalam hati dan melakukan Ho’op saja dengan mengucap Selamat ulang tahun SUTRIku sayang! Terima kasih SUTRI karena sudah menemani raga ini dengan cinta selama 28 tahun. Maaf jika aku sering menyakiti dan mendzalimimu, maaf karena aku sering melakukan hal buruk pada tubuh ini, maaf jika kadang aku tidak menganggap satu jiwa dan raga kita sehingga raga sering terdiam kaku tanpa jiwa! Terima kasih SUTRI, aku mencintai dan menyayangimu, SELAMAT ULANG TAHUN SUTRI!” Orang lain memang tidak akan mudah memahami diriku, maka saat itulah diri berperan untuk merangkul diriku sendiri. Karena bersahabat, memahami dan menerima diri sendiri bersama segala hal yang terjadi dalam hidup tidaklah begitu sulit. Untuk menapaki hidup dengan pengawasan 2 malaikat di kiri kanan yang sedang sibuk mencatat amal perbuatan selama menginjak tanah sebelum berada 2,5 meter di bawah tanah, aku harus menerima dan mencintai diriku. Kalau aku sendiri membenci diri dan hidupku, apa lagi orang lain! SUTRI tetaplah SUTRI walau dipanggil apa pun oleh kawan dan sahabat. Mereka tahu aku adalah SUTRI dengan segala macam sifat yang melekat. Ngomong-ngoong selamat ulang tahun juga ya untuk kawan-kawan dan sahabat-sahabat yang sama-sama berulang tahun di bulan Juni ini, love you! Juni tawa Juni bahagia berteman air mata haru Juni penuh cinta dan kejutan Juniku Juni kita Geje = gak jelas Pariban = Anak perempuan dari saudara laki-laki ibu atau Tulang, yaitu sepupu yang bisa di nikahi Gedang = buah pepaya Lihat Catatan Selengkapnya
bertambah usia berkurang jatah hidup