MenurutIbnu Kathir, lafad وَالْقَلَمِ secara dzahir berarti "demi pena yang digunakan untuk menulis". Ini merupakan sumpah pertama dari Allah swt dalam al-Quran yang turun setelah al-'Alaq 1-5. (Ibn Kathir, Tafsir Al-Quranul Adzim, 293) Ar-Razi mengartikan Al-Qalam dalam dua aspek.
Tafsir Ibnu Katsir] Para Ulama penyusun Tafsir al-Muyassar berkata, "Katakanlah wahai Rasul, 'Dia-lah Allâh Yang Esa dengan ulûhiyah (hak diibadahi), rubûbiyah (mengatur seluruh makhluk), asma' was shifat (nama-nama dan sifat-sifat-Nya), tidak ada satupun yang menyekutui-Nya dalam perkara-perkara itu". [Tafsir al-Muyassar, 11/96]
Berkenaandengan ini Abi Al-Fida' Isma'il Ibn Katsir menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW pertama kali menerima lima ayat surat al-'Alaq ini ketika ia sedang bertahannust (beribadah) di gua Hira. Pada saat itu malaikat (Jibril) datang kepada Nabi Muhammad SAW dan menyuruh membaca ayat-ayat tersebut, dan setelah tiga kali malaikat (Jibril
TafsirLengkap KemenagKementrian Agama RI. Selanjutnya Allah meminta Nabi Muhammad memperhatikan orang yang melarang orang beribadah itu, yaitu Abu Jahal sebagai contoh, apakah jika ia memandang Allah dan ajaran-ajaran-Nya dusta, lalu berpaling, dan tidak mau menggubrisnya. Ia tidak tahu bahwa Allah melihat perbuatannya itu.
SaveSave Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Maarij For Later. 0 ratings 0% found this document useful (0 votes) 787 views 13 pages. Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Maarij. Uploaded by Tafsir Ibnu Katsir Surat Al 'Alaq. Uploaded by. Rahman Abdika. Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qadr. Uploaded by. Bpk Jujur. Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mu'Awwidzatain
SaveSave Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Muzammil For Later. 0 ratings 0% found this document useful (0 votes) 180 views 13 pages. Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Muzammil. Uploaded by Tafsir Ibnu Katsir Surat Al 'Alaq. Uploaded by. Rahman Abdika. Tafsir Ibnu Katsir Surat Al 'Adiyat. Uploaded by. Djunda Afief Nugroho. Tafsir Ibnu Katsir Surat Al
. Al-'Alaq 12 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia اَوْ اَمَرَ بِالتَّقْوٰىۗ العلق ١٢ awأَوْOratauamaraأَمَرَhe enjoinsdia menyuruhbil-taqwāبِٱلتَّقْوَىٰٓ[of the] righteousness?dengan taqwa Transliterasi Latin Au amara bit-taqwā QS. 9612 Arti / Terjemahan Atau dia menyuruh bertakwa kepada Allah? QS. Al-'Alaq ayat 12 Tafsir Ringkas KemenagKementrian Agama RI atau dia menyuruh orang lain bertakwa kepada Allah untuk kemaslahatan mereka? Bukankah amat mengherankan bila orang yang sesat melarang orang yang mendapat pentunjuk untuk melaksanakan perintah Tuhannya dan membimbing orang lain ke jalan takwa?Tafsir Lengkap KemenagKementrian Agama RI Selanjutnya Allah meminta Nabi Muhammad memperhatikan, seandainya orang yang dilarang salat di masjid itu membawa hidayah dan membimbing orang kepada iman, dan mengajak orang kepada ketakwaan, yaitu mengerjakan kebaikan dan kebenaran. Tindakan itu pasti lebih baik, karena pasti menguntungkan dirinya dan masyarakatnya. Orang yang berperilaku seperti itu adalah Nabi Muhammad sendiri. Itu adalah dua perilaku yang bertolak belakang dan bertentangan seperti siang dan malam yang pertama jahat dan membawa kepada kejahatan, dan yang kedua baik dan membawa kepada al-JalalainJalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi Atau huruf Au di sini menunjukkan makna Taqsim dia menyuruh bertakwa. Tafsir Ibnu KatsirIsmail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Lihat tafsir ayat 1Tafsir Quraish ShihabMuhammad Quraish Shihab Beritahulah Aku tentang orang yang melampaui batas ini kalau ia berada dalam kebenaran ketika melarang atau memerintah untuk bertakwa saat ia memerintah.
Al-'Alaq 5 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ العلق ٥ ʿallamaعَلَّمَTaughtDia mengajarkanl-insānaٱلْإِنسَٰنَmanmanusiamāمَاwhatapalamلَمْnottidakyaʿlamيَعْلَمْhe knewdia ketahui Transliterasi Latin 'allamal-insāna mā lam ya'lam QS. 965 Arti / Terjemahan Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. QS. Al-'Alaq ayat 5 Tafsir Ringkas KemenagKementrian Agama RI Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Manusia adalah makhluk yang potensial untuk berkarya melalui ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari Allah. Manusia belajar baik dari alam sekitar yang merupakan ciptaan-Nya maupun dari wahyu yang Allah sampaikan melalui para Lengkap KemenagKementrian Agama RI Di antara bentuk kepemurahan Allah adalah Ia mengajari manusia mampu menggunakan alat tulis. Mengajari di sini maksudnya memberinya kemampuan menggunakannya. Dengan kemampuan menggunakan alat tulis itu, manusia bisa menuliskan temuannya sehingga dapat dibaca oleh orang lain dan generasi berikutnya. Dengan dibaca oleh orang lain, maka ilmu itu dapat dikembangkan. Dengan demikian, manusia dapat mengetahui apa yang sebelumnya belum diketahuinya, artinya ilmu itu akan terus berkembang. Demikianlah besarnya fungsi al-JalalainJalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi Dia mengajarkan kepada manusia atau jenis manusia apa yang tidak diketahuinya yaitu sebelum Dia mengajarkan kepadanya hidayah, menulis dan berkreasi serta hal-hal lainnya. Tafsir Ibnu KatsirIsmail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Lihat tafsir ayat 1Tafsir Quraish ShihabMuhammad Quraish Shihab Yang mengajarkan manusia sesuatu yang tidak terdetik dalam hatinya.
Nama Ebook Tafsir Surat al-Alaq Penulis Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’iرحمه الله Allah عزّوجلّ berfirman بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ١. اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ٢. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ٣. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ٤. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ٥. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ٦. كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى ٧. أَن رَّآهُ اسْتَغْنَى ٨. إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى ٩. أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى ١٠. عَبْداً إِذَا صَلَّى ١١. أَرَأَيْتَ إِن كَانَ عَلَى الْهُدَى ١٢. أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى ١٣. أَرَأَيْتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّى ١٤. أَلَـمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى ١٥. كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعاً بِالنَّاصِيَةِ ١٦. نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ ١٧. فَلْيَدْعُ نَادِيَه ١٨. سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ ١٩. كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ Bacalah dengan menyebut Nama Rabb-mu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup Sesungguhnya hanya kepada Rabb-mulah kembalimu. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa kepada Allah. Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti berbuat demikian, niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya untuk menolongnya, kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujud dan dekatkanlah dirimu kepada Rabb. QS. al-Alaq [96] 1-19 eBook Tafsir kali ini mengetangahkan Tafsir Surat ke-96 Al-Alaq, 5 ayat pertamanya adalah wahyu pertama yang diturunkan, selamat menyimak dan semoga bermanfaat bagi kita semua, amin… Download Silahkan download via
Berikut ini adalah teks, transliterasi, terjemahan dan kutipan sejumlah tafsir ulama atas Surat Al-'Alaq Ayat 1 اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ Iqra' bismi rabbikal-lażī khalaqa. Artinya, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan!". Surat Al-'Alaq tergolong surat Makiyah dengan 19 ayat, 72 kalimat dan 270 huruf. Surat Al-'Alaq dinamakan dengan Al-'Alaq, Iqra' atau Bil Qalam. Penamaan ini sebab Allah memulainya dengan kalimat-kalimat tersebut. Lima ayat pertama surat Al-'Alaq merupakan ayat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw menurut mayoritas mufasir. Ragam Tafsir Surat Al-Alaq Ayat 1 Menurut Ibnu 'Asyur dalam tafsirnya, fi'il Iqra' dalam ayat ini tidak menyebutkan maf'ul atau objeknya, karena ada dua kemungkinan. 1 Adakalanya karena diposisikan seperti fi'il lazim sedangkan maksudnya adalah 'أَوْجَدِ الْقِرَاءَةَ' "Wujudkanlah bacaan"; 2 adalakanya karena sudah jelasnya apa yang dibaca. Adapun perkiraannya adalah 'اقْرَأْ مَا سَنُلْقِيهِ إِلَيْكَ مِنَ الْقُرْآنِ' "Bacalah apa yang hendak kami katakan kepadamu dari al-Quran". Muhammad At-Thahir 'Asyur, At-Tahrir wat Tanwir, [Tunis, Dar At-Tunisia 1984 M], juz XXX, halaman 436. Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menyebutkan dua pendapat terkait huruf ba' kalimat 'بِاسْمِ رَبِّكَ' sebagai berikut Pendapat pertama, huruf ba'-nya adalah zaidah atau sekedar tambahan. Ini merupakan pendapat Abu Ubaidah. Sedangkan maknanya 'اقْرَأِ اسْمَ رَبِّكَ، أَيِ اذْكُرِ اسْمَهُ، "Bacalah nama tuhanmu, yakni ingatlah nama tuhanmu ". Menurut Ar-Razi, pendapat ini lemah dilihat dari tiga aspek. jika saja maknanya demikian, maka tidaklah elok saat Jibril berkata "Iqra'", kemudian Nabi saw menjawabnya dengan 'مَا أَنَا بِقَارِئٍ، أَيْ لَا أَذْكُرُ اسْمَ رَبِّي', "Aku tidak dapat membaca, yakni aku tidak mengingat nama tuhanku"; pemaknaan semacam itu tidak patut bagi Nabi saw, karena Nabi saw tidak pernah tersibukkan kecuali untuk berzikir kepada Allah. Lantas, bagaimana mungkin Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyibukan dengan perkara yang Rasul selalu tersibukan dengan hal tersebut? menyia-nyiakan huruf ba' tanpa faedah. Pendapat kedua, yang dimaksud oleh ayat adalah اقْرَأِ الْقُرْآنَ, "Bacalah Al-Qur'an". Karena kata qira'ah tidak digunakan kecuali untuk Al-Qur'an. Semisal firman Allah Surat Al-Qiyamah ayat 18 فَإِذا قَرَأْناهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ Artinya, "Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu". Demikian pula Surat Al-Isra' ayat 106 وَقُرْآناً فَرَقْناهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلى مُكْثٍ Artinya, "Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia." Masih dalam tafsir yang sama, firman Allah 'bismi rabbika' memungkinkan beberepa aspek 'Bismi rabbika' bermahal nasab. tarkibnya menjadi hal. Perkiraannya adalah 'اقْرَأِ الْقُرْآنَ مُفْتَتِحًا بِاسْمِ رَبِّكَ أَيْ قُلْ بِاسْمِ اللَّهِ ثُمَّ اقْرَأْ', "Bacalah Al-Qur'an dimulai dengan nama Tuhanmu". Yakni, katakan Muhammad "Bismillah, kemudian bacalah". Hal ini menunjukkan bahwa hukumnya wajib membaca basmalah di permulaan semua surat seperti yang diturunkan Allah dan diperintahkan-Nya. Ayat ini, sekaligus membantah orang yang tidak berpendapat demikian, basmalah tidak wajib dan tidak memulainya dengan basmalah. Makna 'اقْرَأِ الْقُرْآنَ مُسْتَعِينًا بِاسْمِ رَبِّكَ', "Bacalah Al-Qur'an dengan meminta pertolongan dengan nama Tuhanmu". Seakan-akan Allah menjadikan nama-Nya sebagai alat untuk mengusahakan urusan agama dan dunia. Padanannya semisal ungkapan 'كَتَبْتُ بِالْقَلَمِ' "Aku menulis meminta bantuan dengan pulpen". Sedangkan perwujudanya dalam ayat adalah "Ketika malaikat Jibril berkata kepada Nabi saw "Iqra'", kemudian Nabi saw menjawab "Aku orang yang tidak bisa membaca." اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ أَيِ اسْتَعِنْ بِاسْمِ رَبِّكَ وَاتَّخِذْهُ آلَةً فِي تَحْصِيلِ هَذَا الَّذِي عَسُرَ عَلَيْكَ, "Bacalah dengan nama Tuhanmu. Yakni, mintalah pertolongan dengan nama Tuhanmu dan jadikanlah alat untuk mendapatkan ini membaca, yang susah bagimu", ucap Jibril. Firman Allah 'bismi rabbika' , yakni "Jadikanlah perbuatan ini ikhlas karena Allah dan lakukanlah semata-mata karenanya. Sesungguhnya ibadah itu jika karena Allah, maka bagaimana bisa setan berani untuk berbuat mengganggu ibadah yang ikhlas karena Allah?" Fahruddin Ar-Razi, Tafsir Mafatihul Ghaib, [Beirut, Darul Ihya’ 1420 H], juz XXII, halaman 512. Lebih ringkas, Syekh Musthafa Al-Maraghi menafsirkan Surat Al-'Alaq ayat pertama dengan "Jadilah orang yang mampu membaca dengan kekuasaan Allah yang menciptakanmu dan menghendakimu setelah engkau tidak dapat melakukan itu. Sesungguhnya Muhammad saw tidak dapat membaca dan menulis. Perintah ilahi datang supaya Muhammad dapat membaca, sekalipun tidak dapat menulis. Allah akan memberikan kitab kepadanya untuk ia bacakan, meskipun ia tak dapat menulisnya." Wallahu a'lam. Ahmad bin Musthafa al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, [Mesir Matba'ah Musthafa al-Babil Halabi 1365H/1946M], juz XXX, halaman 199. Ustadz Muhammad Hanif Rahman, Dosen Ma'had Aly Al-Iman Bulus dan Pengurus LBM NU Purworejo
Surah Al Alaq Segumpal Darah Surah Makkiyyah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Ayat 1-5 Turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan bahwa tulis baca adalah kunci ilmu pengetahuan. اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ٢ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ ٣ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ٤ عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ٥ Terjemah Surat Al Alaq ayat 1-5 1. [1]Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan[2], 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah[3]. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia[4]. 4. Yang mengajar manusia dengan pena[5]. 5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya[6]. Ayat 6-8 Manusia menjadi jahat karena merasa serba cukup. كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى ٦ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى ٧ إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى ٨ Terjemah Surat Al Alaq ayat 6-8 6. [7]Ketahuilah! Sungguh, manusia benar-benar melampaui batas, 7. apabila melihat dirinya serba cukup. 8. Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembalimu. Ayat 9-19 Kisah Abu Jahal dan sikapnya yang jahat terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى ٩ عَبْدًا إِذَا صَلَّى ١٠ أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى ١١ أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى ١٢ أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى ١٣أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى ١٤ كَلا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ ١٥نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ ١٦ فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ ١٧ سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ ١٨كَلا لا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ١٩ Terjemah Surat Al Alaq ayat 9-19 9. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, 10. seorang hamba Nabi Muhammad ketika dia melaksanakan shalat[8], 11. Bagaimana pendapatmu jika dia yang dilarang shalat itu berada di atas kebenaran petunjuk, 12. atau dia menyuruh bertakwa kepada Allah?[9] 13. Bagaimana pendapatmu jika dia yang melarang itu mendustakan dan berpaling dari iman? 14. Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? 15. [10]Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti berbuat demikian niscaya Kami tarik ubun-ubunnya[11] ke dalam neraka, 16. yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka[12]. 17. Maka biarlah dia[13] memanggil golongannya untuk menolongnya, 18. kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah[14], 19. Sekali-kali jangan! Janganlah kamu patuh kepadanya[15]; dan sujudlah[16] dan dekatkanlah dirimu kepada Allah[17]. [1] Surah ini adalah surah yang pertama kali turun kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam; turun pada awal-awal kenabian ketika Beliau tidak mengetahui apa itu kitab dan apa itu iman, lalu Jibril alaihis salam datang kepada Beliau membawa wahyu dan menyuruh Beliau membaca, ia berkata, “Bacalah”. Dengan terperanjat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Saya tidak dapat membaca.” Beliau lalu direngkuh oleh Malaikat Jibril hingga merasakan kepayahan, lalu dilepaskan sambil disuruh membacanya sekali lagi, “Bacalah.” Tetapi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam masih tetap menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Begitulah keadaan berulang sampai tiga kali, dan pada ketiga kalinya Jibril berkata kepadanya, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan–Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah–Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah–Yang mengajar manusia dengan perantaran kalam–Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Terj. Al Alaq 1-5. [2] Yakni yang menciptakan semua makhluk. Pada ayat selanjutnya disebutkan secara khusus manusia di antara sekian ciptaan-Nya. [3] Oleh karena itu, yang telah menciptakan manusia dan memperhatikannya dengan mengurusnya, tentu akan mengaturnya dengan perintah dan larangan, yaitu dengan diutus-Nya rasul dan diturunkan-Nya kitab. [4] Yakni banyak dan luas sifat-Nya, banyak kemuliaan dan ihsan-Nya, luas kepemurahan-Nya, dimana di antara kemurahan-Nya adalah mengajarkan berbagai ilmu kepada manusia. [5] Maksudnya, Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. [6] Hal itu, karena manusia dikeluarkan-Nya dari perut ibunya dalam keadaan tidak tahu apa-apa, lalu Dia menjadikan untuknya pendengaran, penglihatan dan hati serta memudahkan sebab-sebab ilmu kepadanya. Dia mengajarkan kepadanya Al Qur’an, mengajarkan kepadanya hikmah dan mengajarkan kepadanya dengan perantaraan pena, dimana dengannya terjaga ilmu-ilmu. Maka segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat itu yang tidak dapat mereka balas karena banyaknya. Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengaruniakan kepada mereka kekayaan dan kelapangan rezeki, akan tetapi manusia karena kebodohan dan kezalimannya ketika merasa dirinya telah cukup, ia malah bertindak melampaui batas dan berbuat zalim serta bersikap sombong terhadap kebenaran seperti yang diterangkan dalam ayat selanjutnya. Ia lupa, bahwa tempat kembalinya adalah kepada Tuhannya, dan tidak takut kepada pembalasan yang akan diberikan kepadanya, bahkan keadaannya sampai meninggalkan petunjuk dengan keinginan sendiri dan mengajak manusia untuk meninggalkannya, dan sampai melarang orang lain menjalankan shalat yang merupakan amal yang paling utama. [7] Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata Abu Jahal berkata, “Apakah kalian biarkan Muhammad menaruh wajahnya bersujud di tengah-tengah kalian?” Lalu dikatakan, “Ya.” Maka Abu Jahal berkata, “Demi Lata dan Uzza, jika aku melihatnya sedang melakukan hal itu, maka aku akan injak lehernya atau aku lumuri mukanya dengan debu.” Abu Hurairah berkata, “Maka Abu Jahal mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika Beliau sedang shalat karena menyangka akan dapat menginjak leher Beliau. Lalu ia Abu Jahal membuat mereka kawan-kawannya kaget karena ternyata mundur ke belakang dan menjaga dirinya dengan kedua tangannya. Ia pun ditanya, “Ada apa denganmu?” Abu Jahal berkata, “Sesungguhnya antara aku dengan dia Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ada parit dari api, hal yang menakutkan, dan sayap-sayap.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Kalau sekiranya ia mendekat kepadaku, tentu malaikat-malaikat akan merenggut anggota badannya sepotong demi sepotong.” Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat – kami tidak mengetahui apakah dalam hadits Abu Hurairah atau sesuatu yang sampai kepadanya-, “Ketahuilah! Sungguh, manusia benar-benar melampaui batas,– apabila melihat dirinya serba cukup.– Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembalimu.– Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,– seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat,– Bagaimana pendapatmu jika dia yang dilarang shalat itu berada di atas kebenaran petunjuk,– seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat– Bagaimana pendapatmu jika dia yang dilarang shalat itu berada di atas kebenaran petunjuk,– atau dia menyuruh bertakwa kepada Allah?– Bagaimana pendapatmu jika dia yang melarang itu mendustakan dan berpaling?—Yaitu Abu Jahal— Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?– Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti berbuat demikian niscaya Kami tarik ubun-ubunnya ke dalam neraka,– yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka.– Maka biarlah dia memanggil golongannya untuk menolongnya,– kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah,– Sekali-kali jangan! Janganlah kamu patuh kepadanya;…dst.” Terj. Al Alaq 6-19 Kalimat, “Kami tidak mengetahui apakah dalam hadits Abu Hurairah atau sesuatu yang sampai kepadanya,” menurut Syaikh Muqbil merupakan keragu-raguan yang dapat mencacatkan keshahihan sebab turunnya, akan tetapi ia tetap mencantumkannya karena banyak syahid-syahidnya. Hadits tersebut menurut Ibnu Katsir, diriwayatkan pula oleh Ahmad bin Hanbal, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Abi Hatim dari hadits Mu’tamir bin Sulaiman. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Baihaqi dalam Dalaa’ilun Nubuwwah. Imam Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas ia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam shalat, lalu Abu Jahal datang dan berkata, “Bukankah kamu telah aku larang melakukan hal ini shalat? Bukankah kamu telah aku larang melakukan hal ini shalat?” Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam berpaling sambil membentaknya, lalu Abu Jahal berkata, “Sesungguhnya engkau mengetahui, bahwa tidak ada di sini orang yang lebih banyak golongannya dariku.” Maka Allah Tabaaraka wa Ta’aala berfirman, “Maka biarlah dia memanggil golongannya untuk menolongnya,– Maka biarlah dia memanggil golongannya untuk menolongnya,” Ibnu Abbas berkata, “Demi Allah, kalau sekiranya ia memanggil kaumnya, tentu akan ditangkap oleh para malaikat Zabaniyah milik Allah.” Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib shahih.” [8] Yang melarang itu ialah Abu Jahal, sedangkan yang dilarang itu adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri. Akan tetapi usaha ini tidak berhasil karena Abu Jahal melihat sesuatu yang menakutkannya. [9] Dengan demikian, pantaskah orang yang seperti ini keadaannya dilarang? Bukankah melarangnya merupakan penentangan yang besar kepada Allah dan kepada kebenaran? Karena yang berhak dilarang adalah orang yang tidak di atas petunjuk atau memerintahkan orang lain mengerjakan hal yang bertentangan dengan ketakwaan. [10] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengancamnya jika tetap terus bersikap seperti itu. [11] Maksudnya, memasukkannya ke dalam neraka dengan menarik kepalanya dengan keras. [12] Bisa juga diartikan, “Ubun-ubun orang yang dusta ucapannya dan salah perbuatannya.” [13] Orang yang berhak mendapatkan azab itu. [14] Malaikat Zabaniyah ialah malaikat yang menyiksa orang-orang yang berdosa di dalam neraka, mereka adalah malaikat yang kasar dan keras, dan sebagai malaikat yang kuat dan berkuasa. Inilah keadaan orang yang melarang dan hukuman yang diancamkan kepadanya. Adapun keadaan orang yang dilarang, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan agar tidak mempedulikan orang tersebut dan tidak menaatinya. [15] Dengan meninggalkan shalat, karena ia tidaklah memerintahkan kecuali kepada yang terdapat kerugian di dunia dan akhirat. [16] Yakni shalatlah karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala. [17] Dengan bersujud dan dengan menaati-Nya, karena semua itu dapat mendekatkan kamu kepada-Nya. Ayat ini adalah umum berlaku pada orang yang melarang terhadap kebaikan dan dilarang dari melakukannya, meskipun berkenaan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan shalat. Selesai tafsir surah Al Alaq dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wal hamdulillahi Rabbil aalamiin.
tafsir surat al alaq ibnu katsir